Semalam aku dapat kabar gembira.

Masih ingat dengan Era? Adekku yang paling nakal itu sekarang mendapat gelar kehormatan baru yaitu ubur-ubur πŸ˜€ Gelar itu diberikan secara sukarela dan tanpa pamrih oleh Kiki, sepupuku. Era dan Kiki menjadi sangat akrab belakangan ini karena mereka sama-sama nakal dan menurut Wilda, kakak Kiki, adeknya itu menjadi sangat nakal akibat bergaul bebas dengan aku. Jadi dirikulah penyebab utama kenakalan remaja mereka berdua hahaha…

Tapi bukan itu kabar gembiranya. Semalam ketika aku sedang nonton TV di kamar, tiba-tiba Erin, adekku yang paling bontot teriak-teriak memanggilku dan menyampaikan kabar “si nakal alias ubur-ubur yang diberi nama Era itu mendapat ranking 1 di sekolah”.

Aku langsung syok hahaha… (hiperbola banget ya). Nggalah, yang pasti aku sangat bahagia mendengar kabar itu dan segera mengkonfirmasi ke narasumber untuk mencari tau kebenarannya (persis kayak wartawan) πŸ˜€

Ku telp si nakal…

“Selamat malam, bisa bicara dengan Ibu Era alias si nakal alias ubur-ubur?”

Kedengaran tawa dari seberang sana.

“Iya, saya sendiri, Ibu Nobita.”

Hahaha… langsung meledak tertawaku

“Eh kenapa kakak dikasi julukan kayak gitu?”

“Si Kiki yang kasi julukan itu kak, katanya mirip sih.”

“Mirip apanya? Masa hanya karena kami sama-sama pake kacamata, dibilang mirip.”

“Trus kenapa kakak ikut-ikutan manggil aku ubur-ubur?”

“Kalo kamu emang mirip sama ubur-ubur dek.”, “Rambut kamu kan kayak ubur-ubur.” hahaha…

Lho kog kami jadi saling mengejek ya? Padahal tadi niat aku telp si ubur-ubur Era untuk konfirmasi mengenai hasil rapornya πŸ™‚

“Dek, kapan libur?”

“Besok udah mulai libur kak.”

“Jadi udah terima raport donk?”

“Udah kak.”

“Trus gimana nilainya? Ada nilai 6?”

“Ada kak. Semua mata pelajaran IPA nilainya 6. Sudah jelas aja nanti aku ngga akan masuk jurusan IPA.”

“Ngga papa dek. Kamu kan emang pinternya mengejek, bukan berhitung.”

“Kalo gitu adek dapat rangking berapa?”

“Kita dapat rangking satu kak.” (Jelek banget ya bahasa Indonesianya? Masa pake kata ‘kita’ seharusnya ‘aku’)

Aku pura-pura ngga denger. “Rangking berapa dek?”

“Rangking satu kak.”

“Wah… selamat ya.” Tapi tak ku denger dia bersemangat dan gembira

“Pasti itu karena nyontek kan?”

“Iya kak.”

“Hahaha….”, langsung meledak tertawaku

“Bener kak, aku juga ngga nyangka dapat rangking satu karena ada temen sekelasku yang nilai ujian bulanannya selalu paling tinggi, hanya dapat rangking dua.”

“Kalo gitu Puji Tuhan, kamu bisa dapat rangking satu.”

“Iya kak, tapi teman-teman sekelasku jadi aneh gitu tau aku yang dapat rangking satu. Semua tidak percaya.”

“Hmm…”

“Tadi aku udah tanya sama wali kelas, kenapa aku yang rangking satu bukan temanku?”

“Kata wali kelas emang begitu, meski nilai ujian bulananku bukan yang paling tinggi karena nilai yang tertulis di rapor tidak hanya berdasarkan hasil ujian bulanan dan semester aja tapi juga dilihat dari kehadiran di kelas. Aku jarang absen kak selama semester ini tapi kalo temanku itu sering.”

“Oh… kalo gitu selamat ya dek.” Lalu terdengar suara tawa si nakal.

Obrolan kami teputus karena pulsaku abis πŸ˜€

Tiba-tiba aku teringat kejadian dua minggu lalu, awal Desember ketika Era mau menghadapi ujian semester di hari pertama.

Waktu itu hari Minggu. Dia melayani (penari tamborin) di ibadah pertama dan kedua di gereja. Selesai itu dia bermaksud untuk pulang ke rumah karena sudah kecapekan. Tapi ngga ku izinkan karena masih ada ibadah youth (anak muda) jam 1 siang. Dia agak kesal dan terus memaksa untuk pulang. Tapi aku lebih keras lagi memaksa dia untuk tetap mengikuti ibadah youth karena teman-temannya yang juga melayani di ibadah pertama dan kedua tidak ada yang pulang. Mereka tetap di gereja untuk ikut ibadah youth.

“Masa sih adek pulang? Fitri dan Mei aja tetap ikut ibadah youth”

“Aku capek kak. Besok kan mau ujian.”

“Fitri dan Mei juga ujian besok.”

Akhirnya, dia mengalah dan tetap ikut ibadah.

Di akhir ibadah, tiba-tiba hujan deras turun. Si nakal tak bisa pulang. Padahal niatnya ingin segera pulang gitu selesai ibadah.

Dia makin kesal karena masih tertahan di gereja tapi kali ini bukan gara-gara aku, melainkan hujan deras.

Aku bisa merasakan kekesalannya karena mukanya cemberut terus πŸ˜€

Hujan sedikit mereda, tapi masih agak deras. Dia memaksakan diri untuk pulang. Tini, kakak si nakal melarang. Tapi dia tetap nekat. Akhirnya mereka pulang dalam keadaan masih hujan.

Malam harinya…

Handphoneku berbunyi. Ada sms masuk, ternyata dari si nakal. Begini isinya:

Gara-gara pulang hujan2an tadi, kepalaku sampe sekarang masih pening kak. Good night and met bobok buat kakak yang udah capek πŸ˜€ Sori kalo tadi aku agak kesal di ibadah 3 gara-gara ngga jadi pulang hehehe…

Saat terima sms itu, aku sedang dalam perjalanan ke restoran Golden Yen. Aku, Ivon (adekku), Riri (statusnya tak jelas), Chika dan Dai (sepupuku), diajak om dan tante makan malam di sana.

Selesai memesan makanan, aku permisi keluar untuk telpon si nakal.

“Selamat malam, bisa bicara dengan si nakal?”

“Iya kak, ada apa?” Suara di seberang terdengar agak parau.

“Udah tidur ya dek?”

“Iya kak.” (orang tidur kog bisa jawab telp ya?) πŸ˜€

“Masih pening kepalanya?”

“Masih kak.”

“Jadi udah belajar?”

“Belum kak.”

“Kapan belajarnya?”

“Rencananya subuh kak. Makanya aku tidur cepat.”

“Oh ya udah, kakak mau berdoa untuk adek.”

“Ok kak.”

Imajinasiku si nakal langsung menutup mata dan melipat tangan (terus gimana donk megang hpnya?) πŸ˜€

Selesai berdoa dan mengucapkan selamat tidur, aku kembali ke restoran untuk menikmati makanan yang tadi sudah dipesan.

Esoknya, begitu bangun tidur, aku mengirimkan sms untuk si nakal. Begini isinya:

Kakak minta maaf ya kalo kemarin paksa adek ikut ibadah youth. Kakak hanya ingin adek dapat menjadi teladan yang baik bagi Mei dan Fitri (kebetulan si nakal adalah pembina rohani bagi Mei dan Fitri). Mereka juga capek dan ujian tapi tetap bisa ikut ibadah youth. Adek kan calon pemimpin di masa depan jadi harus belajar untuk menjadi teladan mulai dari hal-hal yang kecil, meski itu sulit dan tidak enak. Kakak mengasihimu.

Memang smsku itu tak ada dibalas, tapi aku yakin pasti dibacanya (semoga direnungkannya juga) πŸ™‚

Terbukti berkat ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan, dia mendapat nilai yang terbaik di sekolah.

Selamat ya dek, kakak bangga padamu… πŸ˜€