“Aku ngga maulah kak, nanti narasumbernya cerewet kayak yang kemarin”

Itulah jawaban yang keluar dari mulut Ester, rekan kerja di kantor ketika aku menyampaikan tugas yang diberikan oleh atasannya. Memang ini penugasan yang mendadak karena baru diberikan pada siang hari, sedangkan acaranya pada malam hari. Tapi sebenarnya itu bukan masalah bagi Ester. Sebagai seorang wartawan, dia harus selalu siap kapan saja ketika ada liputan peristiwa ataupun wawancara dengan narasumber.

”Ngga cerewet kog dek, yang ini narasumbernya seorang dosen di fakultas psikologi salah satu universitas terkenal di Jakarta.”

”Oh dosen psikologi ya kak? Ok deh kalo gitu, jam berapa wawancaranya dan di mana?”

”Jam 9 malam dek, di Hotel Best Western.”

Cuaca sedang tidak bersahabat pada malam itu. Hujan lebat dan angin kencang mengguyur kota tempat tinggalku. Ada sedikit kekuatiran dalam diriku bagaimana bila nanti Ester berubah pikiran karena melihat medan yang cukup sulit ditempuhnya untuk menuju ke tempat pertemuan yang telah disepakati. Lagipula tadi aku sempat meminta tolong dia untuk mampir dulu ke toko kue karena ada sedikit oleh-oleh yang mau diberikan kepada si narasumber.

Jam di ponselku menunjukkan hampir pukul 9 malam dan masih agak deras hujan di luar sana.

”Dek, gimana? Apa sudah ketemu dengan mbak Agatha?”, kukirimkan sms ke ponselnya.

”Aku sudah di lobi hotel kak. Bentar lagi mbak itu turun.”, balasnya tak berapa lama.

”Syukurlah, kalo gitu kakak titip salam ya dek, makasih.”

Sayang sekali, malam itu aku tak bisa ikut menemani Ester karena mendadak ada acara yang lebih penting dan aku wajib menghadirinya.

Lebih disayangkan lagi, abangku itu pun tidak dapat bertemu dan mewawancarai si mbak dosen. Padahal sebelumnya dia sudah berjanji, tapi berhubung malam kemarin hanya tidur dengan durasi 2 jam mengakibatkan kondisi tubuhnya kurang sehat. Perusahaan tempatnya bekerja memang baru saja meluncurkan edisi perdana koran terbitan sore hari. Mungkin itu yang menyebabkan waktu tidurnya jadi berkurang.

Jadi dia pun hanya menitipkan salam saja kepada si mbak dosen dan sudah kusampaikan lewat sms. Sebagai gantinya, dia mengutus Nanda, seorang wartawan terbaik di tempatnya bekerja untuk mewawancarai si narasumber.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada sms masuk dan jam sudah menunjukkan pukul 22.17 WIB.

“Aku udah selesai ngobrol sama teman-temanmu nih… Tengkyu banget ya… juga untuk bika ambonnya…”, begitu bunyi sms dari si mbak dosen.

Wow ternyata lama juga sesi wawancaranya. Hampir satu setengah jam. Kali ini Ester benar-benar betah dengan si narasumber. Lega banget hatiku, berarti besok tak akan kudengar omelannya di kantor 😀

Buat Mbak Agatha, terima kasih banget sudah bersedia menjadi narasumber untuk Harian Global dan Medan Weekly serta membagi pengalaman dan pengetahuannya tentang dunia blog.

Penasaran dengan tulisan Ester tentang blognya mbak Agatha? Silakan klik situs Harian Global dan dudukBERSILA.