Pernah bermain tebakan?

Aku yakin kita pasti pernah, meski mungkin itu dulu sewaktu masih kecil atau remaja. Tebakan yang biasa kita mainkan berupa teka-teki atau sejenisnya. Permainan seperti itu sangat mengasyikkan apalagi bila disertai dengan iming-iming hadiah baik dalam bentuk uang, barang ataupun traktiran bagi siapa yang bisa menjawab tebakan itu dengan benar.

Nah… Sabtu lalu, adekku yang paling nakal, Era, melakukan permainan ini bersama kedua teman sekelasnya, Anes dan Dion. Sama seperti Tina, Era juga bukan adek kandungku. Dulunya dia teman sekelas Tina sewaktu masih duduk di bangku SMP. Di lain kesempatan nanti, aku akan menceritakan lebih banyak tentang adekku yang satu ini.

Kembali ke soal permainan tebakan tadi. Era, Anes dan Dion telah membuat suatu kesepakatan bersama yaitu bagi yang bisa menebak dengan tepat, maka dia akan ditraktir minuman Sprite atau Fanta.

Tapi ternyata ada yang berbuat curang nih dengan melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama tadi. Siapa lagi pelakunya kalo bukan adekku yang nakal itu.

“Nes, ayo dong traktir aku.” begitu kata Era Sabtu malam lalu.

“Eh, siapa yang menang, aku kan?”, jawab Anes.

“Iya, tapi kau kan sudah janji kalo menang traktir Sprite, kalo kalah traktir Fanta”, kata Era tak mau kalah.

Aku yang mendengar pertengkaran mereka itu langsung bertanya, ingin tahu apa yang sedang terjadi.

“Ini kak, si Era, masa udah kalah main tebakan, masih minta ditraktir?”, kata Anes kepadaku.

“Bukan gitu kak”, kata Era berusaha membela diri. “Tadi kami main tebakan di sekolah, terus kalo aku menang, Anes harus traktirin minum Sprite, tapi kalo kalah, traktirin Fanta”

“Hahahahaha…”, seketika itu langsung meledak tawaku.

“Permainan apaan tuh? Masa yang kalah juga ditraktirin. Harusnya yang kalah mentraktir yang menang dong.”, kataku kepada mereka berdua.

Ya begitulah sampai keesokan hari, aku mendengar dari Tini (kakak Era) kalo Anes tak jadi mentraktir Era dan teman-temannya (curang lagi nih, masa teman-temannya ikut juga?) 🙂 Sabtu malam itu karena mereka lebih memilih pulang ke rumah masing-masing (dengan alasan takut dimarahi ortu karena sudah kemalaman).

Dasar si nakal, sudah kalah masih aja minta ditraktir… 🙂